Kamis, 22 November 2012

Kebaikan adalah jalan sukses





Ada sebuah kejadian yang menarik dalam perjalanan karir almarhum Ignacy Paderewski (18 November 1860 – 29 Juni 1941). Pianis legendaris, composer, politisi, diplomat sekaligus mantan Perdana Menteri dari Polandia ini pernah menyetujui untuk mengadakan konser yang dipromotori 2  orang mahasiswa Universitas Stanford, yang saat itu masih berada di bangku kuliah dan menyatakan sedang belajar mengorganisir sebuah perhelatan / pagelaran.



Tentu saja, saat itu terjadi, Paderewski belum menjadi seorang Perdana Menteri. Manager Paderewski meminta kedua mahasiswa itu menjamin pemasukan sebesar USD 2.000 dan kedua mahasiswa tersebut menyanggupinya.

Malam pagelaran berjalan lancar, namun kerja keras kedua mahasiswa itu ternyata “hanya” menghasilkan uang sebesar USD 1.600. Dengan menahan malu,  kedua mahasiswa itu memberikan penghasilan tersebut kepada Paderewski, sekaligus menyampaikan surat perjanjian pencicilan USD 400 untuk memenuhi janji pemasukan USD 2.000. Paderewski memandang kedua mahasiswa itu dan merobek surat perjanjian pencicilan tersebut. Paderewski malah mengembalikan USD 1.600 itu kepada mereka dan berkata, “Keluarkan dulu biaya kerja kalian dan ambil masing-masing fee 10 % untuk biaya tenaga kalian, lalu baru berikan kepadaku sisanya”

Berpuluh tahun kemudian, Polandia dilanda krisis akibat peperangan. Paderewski, yang sudah menjabat menjadi seorang politisi dan diplomat, tergerak untuk mengetuk hati para pejabat maupun pengusaha negara tetangga untuk memberikan sumbangan bagi Polandia. Sungguh aneh, karena belum lagi permintaan itu dikirimkan, tiba-tiba ribuan ton bahan pangan dikirim dari USA ke Polandia. Pengirimnya, seorang Warga Negara Amerika bernama Herbert Hoover.

Paderewski pergi menemui Herbert Hoover di Paris, karena Hoover saat itu sedang berada di Paris dan bertugas sebagai ketua US Relief. Hoover berkata kepada Paderewski, “Tak perlu membalasnya, Tuan Paderewski, itu adalah kewajiban sesama manusia untuk saling menolong. Lagipula, Anda mungkin tak ingat, Anda pernah menolong saya. Saya adalah salah satu mahasiswa, yang dulu pernah berhutang USD 400 pada pagelaran konser Anda”. Herbert Hoover sendiri, tak lama kemudian, terpilih menjadi Presiden USA yang ke 31.

(Diterjemahkan dari sebuah bab dari buku Steve Goodier – A Law of Succesful Living)

Rabu, 21 November 2012

Kebaikan berteman kebaikan

Sering kita dengar ungkapan bahwa untuk melihat siapakah seseorang di hadapan kita, maka lihatlah siapa teman akrabnya. Secara alamiah, manusia akan berkumpul dengan komunitas yang sesuai dengan pribadinya.

Jauh sebelum ungkapan tersebut mengemuka, dalam surat 24 ayat 26 sudah dinyatakan bahwa wanita yang jahat untuk laki-laki jahat dan wanita baik untuk laki-laki baik. Dalam beberapa hadits juga disebutkan bahwa ruh manusia akan mencari yang sesuai dengannya.

Ayat dan hadits tersebut tidak terbatas pada perjodohan, tetapi juga pada sifat-sifat manusia. Ketika kita membiasakan berbuat baik, maka potensi kebaikan kita akan berkembang. Sebaliknya ketika kita membiasakan sifat jelek, maka potensi kejelekan kita yang akan berkembang.

Pada saat kita sudah berjalan pada jalur kebaikan, maka godaan untuk berbuat jelek selalu ada. Jika kita condong sedikit saja, maka akan terjerumuslah kita apabila tidak bertaubat. Ketika pertama kali kita berbuat jelek, ada kesadaran bahwa itu adalah jelek. Namun ketika kita membiarkan kejelekan tersebut tanpa melakukan taubat, maka akan menjadi noda hitam di dalam hati. Semakin banyak noda hitam dalam hati semakin sulit untuk membedakan kebaikan dan kejelekan.

Senin, 19 November 2012

Investasi yang tidak pernah merugi

Berbagai penawaran menarik mengenai investasi usaha sudah banyak kita jumpai. Janji keuntungan yang ditawarkan begitu menggoda, namun hasilnya tidak selalu seindah yang dibayangkan. 

Demikian pula ketika memiliki sesuatu yang berharga, seringkali berat rasanya untuk berbagi. Apalagi jika mencarinya melalui jalan yang tidak mudah. Kita takut kehilangan bahkan takut berkurang meskipun sedikit.

Sesuatu yang berbau materi memang demikian sifatnya. Berkurang ketika kita berbagi, ada resiko untung dan rugi ketika kita menginvestasikan. Namun hal ini tidak berlaku dengan kebaikan. Kita tidak pernah kehilangan  atau rugi dengan kebaikan yang kita lakukan.

Melakukan kebaikan ibarat menanam tanaman yang selalu tumbuh dan tidak pernah mati selama kita dapat menjaganya dengan baik, karena kalau tidak dapat menjaga dengan baik, meskipun kebaikan yang kita lakukan sudah banyak, akan hancur begitu saja dengan sedikit saja kesalahan. Ibarat karena nila setitik rusaklah susu sebelanga.

Dalam ajaran agama, kebaikan yang kita lakukan akan dibalas oleh Tuhan dengan lipatan yang begitu banyak bahkan tak terhitung. 

Kebaikan, seringkali masih terus dikenang meskipun pemiliknya sudah tiada. Ahli warisnya juga ikut merasakan, tidak saja harta yang ditinggalkan tetapi juga kebaikan yang tidak ternilai harganya.

Bagi pemilik kebaikan akan terus merasakan tidak hanya sebatas di dunia, tetapi sampai di akhirat nanti. 

Mari berbagi kebaikan, memilih mendahulukan kebaikan daripada pilihan lain yang merugikan orang lain yang dampaknya akan kita rasakan juga meskipun kadang tidak segera.